QWEEPY.CO.ID
Image default
Berita

Semarang: Sumur Tua Ajaib Mampu Sembuhkan Warga dari Wabah Kolera

Baru-baru ini muncul kabar bahwa ternyata Kota Lama Semarang memiliki sumur tua yang dibangun pada jaman prasejarah. Konon, sumur ini tidak pernah kekeringan meski kemarau. Bahkan kabarnya, air dari sumur ini mampu menyembuhkan warga yang terkena wabah malaria dan kolera. Sumur tua ini berada tepat di samping Taman Srigunting, Kota Lama Semarang.

Warga di sekitar lokasi sumur sampai sekarang masih memanfaatkan air dari sumur tersebut untuk kesehariannya seperti memasak, mandi, dan lainnya. Saat ditinjau ternyata ada seorang warga yang sedang menimba air dari sumur dan memasukkannya ke dalam 15 kaleng besar kemudian mengangkutnya menggunakan gerobak kayu.

Mulyono (35) mengakui setiap hari dia menimba dan membawa belasan kaleng tersebut ke rumah warga yang membutuhkan. “Ini saya antar buat warung-warung untuk mencuci. Saya juga pakai, bisa diminum, dimasak dulu,” begitu  kata Pak Agus saat diwawancarai, Kamis (11/7/2019).

Pak Agus merupakan salah seorang warga yang tinggal di Jalan Kedasih. Pak Agus sangat bersyukur dan terbantu dengan adanya sumur tua ini. Sumur tua ini sangat bermanfaat terlebih lagi saat musim kemarau tiba. Saat itu air dari PDAM selalunya kering dan tidak mengalir, saat itulah warga merasakan manfaat besar dari sumur tua bersejarah.

“Dulu pemadam kebakaran juga ambil air di sini. Waktu pasar Johar belum relokasi banyak yang ambil,” jelas Pak Agus lagi.

Selama bertahun-tahun Pak Agus mengambil air di sumur tersebut, Pak Agus merasa bahwa sumur tersebut tidak pernah surut bahkan meski beberapa waktu yang lalu air sumur digunakan untuk memadamkan api kebakaran, air di dalam sumur tersebut seakan terisi lagi dengan cepat.

“Ini kalau di desa kayak sendang. Tapi sendang bisa asat (surut), ini enggak,” begitu pungkasnya.

Sumur tua yang berusia puluhan tahun ini sudah ada sejak tahun 1840-an bahkan sudah ada sejak kependudukan Belanda kala itu.

“Itu sumur artetis pertama di Semarang yang digunakan untuk publik. Dulu kan artetis untuk perorangan,” kata Rukardi Achmadi seorang Koordinator Komunitas Pegiat Sejarah.

“Dibuat ketika Semarang kena wabah penyakit. Saat itu Semarang bawah kan bekas laut, di situ masih banyak rawa, namanya rawa sumber penyakit, ada nyamuk malaria. Penduduk bumi putera punya kebiasaan buruk soal sanitasi minum air tidak dimasak. Penyakit mudah mewabah, yang parah kolera,” begitu penjelasan Rukardi.

Related posts

PKS, PDI-P mencari titik temu pada kepemimpinan MPR, amandemen konstitusi

Rey Wahyudi

Ahok percaya karir politiknya ‘sudah berakhir’

Rey Wahyudi

Tiga kontraktor Blok Koridor akan mempertahankan peran setelah 2023

Rey Wahyudi

Kurang dari setengah kecamatan di Jakarta memiliki stasiun pemadam kebakaran

Rey Wahyudi

Empat tewas, tujuh terluka dalam bentrokan berdarah di Mesuji

Rey Wahyudi

16 Orang Diduga Menyerang Polisi di Sumatra Selatan

Rey Wahyudi