QWEEPY.CO.ID
#CoratCoret

George Floyd Manifestasi Masa Lalu yang Kelam.

George Floyd salah satu orang dari 7,7 miliyar penduduk bumi tercinta yang berakhir naas di tangan polisi. Saya sangat tidak menyangka akan terjadi aksi solidaritas di berbagai belahan dunia akhir-akhir ini. Sama sekali saya belum membaca berita yang beredar tentang George Floyd sampai artikel ini ditulis.

Pernah baca sebuah berita dari media internasional dengan headline-nya yang kurang lebih begini, “Pria Kulit Hitam Tewas di Tangan Polisi”. Yah intinya begitu deh. Entah kenapa ketika saya mulai scroll laman facebook yang sudah saya bersihkan dari orang-orang alay yang mengaku kerja di PT. Cint4 5ejat1e kemudian muncul satu postingan hanya bertuliskan “who wants you to call if the police kill too?”.

George Floyd

Coba kita bayangin dulu ketika polisi sudah tidak bisa kita percaya dalam menangani sebuah kasus. Jangan membayangkan kasus yang besar guys, lingkup sesuai konteks kasus George Floyd saja daripada kamu diciduk mas-mas intel yang nyamar jadi tukang bakso sambil bawa HT trus bilang “kijang 1 ganti, krrrr”. Alih-alih merasa aman, malah berpotensi main hakim sendiri kan. Kita sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah tentu menjunjung tinggi andap asor, sopan santun, taat hukum. Apa itu main hakim sendiri? Tidak pernah terjadi disini.

Di Amerika Serikat sana masih enak, hampir setiap orang punya senjata untuk perlindungan diri, lah kita modal silat saja nggak cukup. Boro-boro punya jiwa bar-bar, mau deketin cewek saja keringetan. Tangan saya mulai tergerak untuk mencari tahu konspirasi siapa dan bagaimana yang dialami George Floyd ini.

Saya mau bahas konteks kasusnya saja, kalau mau cari biografinya bisa cek Wikipedia dan sejenisnya.

George Floyd seketika booming dari rekaman amatir seorang cewek bernama Darnella. Kejadiannya di dekat sebuah toko. Setelah saya telusuri kenapa George Floyd ditangkap, karena ada aduan dari sebuah pemillik toko mengadu ke polisi bahwa George Floyd diduga melakukan pemalsuan cek bernilai 20 USD—sekitar 200 ribu rupiah—kemudian datanglah 4 orang polisi menangkapnya. George Floyd susah bernafas karena cekikakan kaki salah seorang polisi (fyi, teknik itu merupakan SOP penangkapan seseorang di kepolisian sana). Naasnya George Floyd berakhir dengan status terduga kriminal dan terbunuh.

QWEEPY ganteng

Jadi begini. . .

Ada hal menarik di balik kasus ini, apakah polisi tersebut punya dendam rasisme? Apakah SOP kepolisian yang tidak benar saat dijalankan? Apakah media sengaja mengetik headline beritanya dengan embel-embel kulit hitam? Saya belum mencari tahu berita tentang 3 pertanyaan di atas, sengaja biar menjadi misteri.

Logika saya menyorot pada SOP kepolisian yang mengharuskan mengunci leher terduga kriminal dengan kaki. Menurut Khabib Nurmagomedov—yang sudah saya konfirmasi kemarin sembari ngopi cantik— teknik ini berpotensi meyumbat pernafasan jika salah dalam penerapannya. Terus ada berapa teknik/SOP lagi yang berpotensi untuk membuat orang mati selain menggunakan bedil atau senjata tajam, kan ngeri juga. Kepolisian di USA sana pastinya juga kesulitan mendeteksi oknum rasis yang ikut kerja. PR besar buat kalian bapak-bapak agar bisa menjadi golongan kami lagi.

Sini tak kasih tahu visi Polri biar kalian jadi polisi baik, “Terwujudnya pelayanan keamanan dan ketertiban masyarakat yang prima, tegaknya hukum dan keamanan dalam negeri yang mantap serta terjalinnya sinergi polisional yang proaktif”. Besar harapan saya di berbagai negara punya polisi yang santun layaknya di Indonesia.

Di belahan dunia manapun tahu, aksi solidaritas yang terjadi berdasar empati rasisme sampai brutal membuat saya benar-benar kaget. Jadi, selama ini orang-orang ini sengaja diam atau gimana sih. Bagus sih iya tapi kalo ricuh juga males nontonnya hey. Paling kamu juga belum tau kenapa isu rasisme ini selalu ada.

Sejarah singkatnya gini, dulu saat jaman kolonial kebanyakan pesohor negara invansi. Kebetulan di Amerika sana sudah ada penduduknya mayoritas kulitnya hitam. Bukannya dapat teman baru, eh mereka malah dijadikan budak di tanah mereka sendiri. Si kulit putih ini punya semacam prinsip kalau mereka yang harus ada di posisi yang enak, intinya jangan sampai kebalik deh.

Tumbuh propaganda gitu yang akhirnya menjadi dendam antar ras. Ulah elit global kayaknya nih. Untungnya kolonialisme sudah hilang dan sebenarnya kita ini hidup santuy kalo gak ada oknum sih. Yaa mungkin George Floyd manifestasi dari dendam yang tersisa. Semoga cepat selesai kasus ini dan kembali New Normal. Lah malah kepikiran covid-19.

stay safe, stay home

Mending nge-game aja

Anyway, saya sangat bersyukur bisa hidup di Indonesia. Kalem, santuy, selow pokoknya hehe. sepengalaman saya kuliah masih aman saja, nggak peduli kulitnya hitam-kuning-putih-ijo-biru ya biasa saja. Nggak peduli logat papua-suroboyo-jogja-bangka-jekadahh ya biasa saja. Polisinya sangat santun.

Tidak pernah saya jumpai polisi kasar—atau memang nggak keliatan saja ya—paling cuma ditanyain saja surat-suratnya lengkap apa tidak. Kalau ketemu anak nakal seperti di acara 68, mereka nyuruh push-up saja. Terbaik deh Polisi Indonesia. Nggak usah tanya perlakuan kasus-kasus ’98 atau aktivis atau sejenisnya, SAYA NGGAK TAHU!

Saking terlalu santuy-nya, kita sudah memaafkan Belanda yang 350 taun njajah. Blegedessss! Setidakya kita punya rasa marah sedikit kek, unjuk rasa kek—eh gak bisa ding kan masi peesbebeh—terserah bikin aksi apa gitu. Tapi saya pikir ulang bagus sihh kalau dimaafin, sugeng ndalu Pakdhe Joko-wi hehe.

Akhirnya saya nggak sungkan-sungkan mau dukung Belanda di Piala Dunia. Dari dulu baru kesampaian sekarang tapi saya sukanya dukung Italia sih, nggak jadi dukung Belanda deh. Tapi nggak repot isin mau pilih klub-klub liga Belanda buat turnamen PES. Wong mereka pada jago-jago main bola.

Robin Van Persie kalau sudah dikasi tendangan kornel, beh sundulannya asli mirip The Flying Dutchman. Belum lagi kalau counter attack dikasi L1 plus segitiga terus pencet kotak, saya jamin gol. Ngapain dukung pemain yang ecek-ecek, sering ngambek gajinya belum dibayar, menegemen liganya juga semerawut, kisruh sana-sini suporternya norak kampungan kecuali yang tidak hehe. You know what I mean lah.

Saya juga berdo’a semoga selalu damai bumi ini, masa covid-19 belum kelar jangan ditambah ada unjuk rasa bar-bar bikin makin pusing lah. Butuh piknik lo ini, tapi nggak punya duit juga. Tambah mumet bray. Intinya kasus George Floyd nggak boleh terulang lagi, yang masih punya dendam coba maafkan diri sendiri. Isu rasisme ini gak mbois blas rek, pokok ojok melok-melok dadi wong aneh lah. Satu lagi nih yang punya kenalan pakpol, salamin buat beliau tolong diayomi masyarakatnya, dijaga, dirawat. Mas dan mbak kalau mau unjuk rasa bisa lewat medsos dulu deh pakai hashtag #BlackLivesMatter #DirumahAja #StaySafe.

Terakhir banget, selamat menunaikan New Normal untuk warga Jekadah dan zona hijau lainnya.

Related posts

Percakapan Saya Bersama Admin Sosmed Akun Hijrah

Rosi Indra

Bingung Pilih E-commerce atau Marketplace ? Kenali Perbedaan Secara Lengkap!!

Reyazandi

Resep ala Selebgram : DM Instagram Adalah Modal Awal Nikah

Rosi Indra

Merasa Tidak Cerdas? Tunggu Dulu, Inilah Penjelasan Tentang Multiple Intelligences

Akbar Satria

Butuh Domain Hosting Bintang 5 ? Yuk Kenali CloudKilat !

Reyazandi

Apakah New Normal di Indonesia Sinonim dari Herd Immunities?

Rosi Indra

2 comments

Avatar
daus June 10, 2020 at 7:01 am

Joss, mantapsss bang rosi👍🏿

Reply
Avatar
Daus June 10, 2020 at 7:04 am

Joss bang rosi, mantappp.

Reply

Leave a Comment