QWEEPY.CO.ID
#CoratCoret

Apakah New Normal di Indonesia Sinonim dari Herd Immunities?

Beberapa hari belakangan ini saya kepikiran banget tentang New Normal yang seketika mengagetkan logika saya. Karena pandemi covid-19 ini sudah nggak bisa diatur, pemerintah berupaya menghambat penyebarannya dengan menutup sebagian akses seperti di sektor pendidikan, pariwisata, migrasi, dan lainnya.

Masyarakat yang ngerti harusnya pada anteng di rumah nonton tv sinetron azab, guyonan garing, bahkan salah satu stasiun tv niat mengimpor sebuah drama perselingkuhan baru biar kita tonton bersama. Nggak tanggung-tanggung asli dari Korea Utara, eh Korea Selatan maksud saya.

Tapi nyatanya, walaupun PSBB ini berlangsung dan diperketat, tetap saja kasus covid-19 meningkat secara grafik.

Apakah ini ada udang di balik batu?

Semangat bar-bar masyarakat kita tidak bisa dianggap remeh, sudah tahu disuruh diam di rumah malah ngeluyur–saya juga sih kalau sedang ngidam kopi hehe—Perpisahan McD Sarinah tak usah dirisaukan karena sebenarnya ada alternatif daring media sosial yang bisa digunakan, Instagram Live misalnya. Sangat tidak mungkin jika warga Jekadah yang fancy tidak pakai Instagram.

Aksi selanjutnya di beberapa kota chaos ketika menyambut lebaran. Masih banyak orang yang takut keliatan miskin fashion daripada tertular covid-19. Sudah saya bilang tadi kan ada alternatif kok, online market place / e-commerce (kamu bisa cek postingan sebelumnya tentang e-commerce  sekalian promosi agar paham jenisnya). Masih ada jalan untuk kelihatan keren dan tetap lebaran. Kita nggak perlu sedih akibat pandemi ini, harus bahagia karena ada mantan yang menikah tahun ini tapi nggak bisa resepsi.

Kalau secara harfiah New Normal adalah normal yang baru yaelah semua orang juga tau mah. Umumnya pada setiap tragedi besar yang pernah terjadi, New Normal akan selalu datang setelah tragedinya hilang. Contoh gampangnya ketika dulu kita dijajah dan WW2 berlangsung, banyak kerusakan terjadi mengakibatkan rakyat kita nggak pernah tenang.

Nah kebetulan WW2 berakhir, Indonesia berdiri sebagai negara dan mulailah menata kehidupan negara kita sesuai teori yang dianut. Garis besarnya ada di perang yang berakhir dan kita merdeka. Kalau New Normal di masa pandemi ini ada indikatornya sendiri. Indikator yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Tidak menambah penularan atau memperluas penularan atau semaksimalnya mengurangi penularan.
  2. Menggunakan indikator sistem kesehatan yakni seberapa tinggi adaptasi dan kapasitas dari sistem kesehatan bisa merespons untuk pelayanan COVID-19.
  3. Surveilans yakni cara menguji seseorang atau sekelompok kerumunan apakah dia berpotensi memiliki COVID-19 atau tidak sehingga dilakukan tes masif.

Pertanyaannya apakah Indonesia sudah siap dengan New Normal? Belum, coba kita bedah. Grafik kasus virus selalu bertambah setiap harinya, setiap hari ada yang dijemput dan dibawa ke rumah sakit untuk diobatin. Ratusan orang bahkan beberapa hari terakhir tembus rekor seribuan. Berarti angka penularannya masih tinggi pada virus itu.

Fakta berikutnya ratusan tim medis meninggal akibat terpapar dan kelelahan, kekurangan APD yang sudah keburu dijual ke luar negeri, sementara kita minim APD. Yang jarang dibuka ke publik adalah pemerintah ini benar menanggung semua biayanya tidak, lunas semua tidak. Bayangin kalau rumah sakit rujukan ini mulai collapse, siapa yang mau merawat pasien? Bill Gates? Boro-boro rakyat kita mau dibantu sama orang yang bikin konspirasi semua ini.

Ngenesnya lagi ya, dari awal minim banget rapid test massal. Pemerintah tahu kalau rakyatnya ini pada males buat tes mandiri—termasuk saya juga sih, mahalnya ituloh bikin ampun—harusnya pemerintah inisiatif jemput bola dong.

Saya tentu saja paham betul orang pemerintahan pintar-pintar, mereka pasti mikir hal yang sama. Rakyat pintar juga nggak ya? Sebagian saja sepertinya. Kalau boleh suudzon, pemerintah kayaknya capek ngatur rakyat sama capeknya ketika dengerin curhatan doi dan mungkin lebih baik dibiarin saja mereka sekaligus menguji nyali tingkat bar-barnya.

Kasian pemerintah pusing baru nyoba PSBB saja, sudah jutaan rakyat jadi nganggur. Sangat tidak mungkin untuk menerapkan lockdown. Indonesia dapat duit dari mana coba? Nyetak uang malah diprotes sama ekonom, mau ngutang juga entar dinyinyiri netizen yang maha benar lagi maha mengetahui.

Malah jadi ikutan bingung mikir mau ambil kebijakan, hadeh. Ibarat kamu disuruh bokap nyokap nikah muda tapi calon yang ada di depan kamu bego semua. Kalau saya sih nggak jadi nikah saja mending cari-cari dulu yang bening kayak aqua hehe.

Warga Jekadah dan zona hijau lainnya jadi kelinci percobaan sudah mulai nyoba New Normal, ya walaupun protokol kesehatan sangat ketat tapi tetap saja ada penambahan kasus positif baru tiap harinya. Nggak jadi New Normal juga nggak apa-apa, yang penting hiburan di tv dong harus yang asik gitu. Premier League, La Liga, Serie A, MotoGP, Formula One, yang seru-seru tanyangin lagi pokoknya. Bosen nonton youtube isinya Kekeyi bukan boneka, boneka, boneka..

Jangan-jangan ini agenda elit biar rakyat kita kebal. New Normal is Herd Immunities for us? Bodo amat sama konspirasi ah, yang penting jaga kesehatan saja guys..

Related posts

Butuh Domain Hosting Bintang 5 ? Yuk Kenali CloudKilat !

Reyazandi

Tips Menjadi Pendengar Yang Baik kala Dicurhati Pacar

Rosi Indra

Resep ala Selebgram : DM Instagram Adalah Modal Awal Nikah

Rosi Indra

George Floyd Manifestasi Masa Lalu yang Kelam.

Rosi Indra

Bingung Pilih E-commerce atau Marketplace ? Kenali Perbedaan Secara Lengkap!!

Reyazandi

Percakapan Saya Bersama Admin Sosmed Akun Hijrah

Rosi Indra

Leave a Comment