QWEEPY.CO.ID
#CoratCoret

Merasa Tidak Cerdas? Tunggu Dulu, Inilah Penjelasan Tentang Multiple Intelligences

Mungkin orang saat ini tidak asing lagi jika telah menyebutkan intelegensi atau tingkat kecerdasan. Terkadang sebagian orang menganggap intelegensi selalu berkaitan dengan prestasi akademik pada anak. Padahal, sebenarnya tidak ada jaminan bahwa intelegensi yang tinggi juga akan mempengaruhi prestasi akademik anak. Bisa jadi, ketika anak tidak mendapatkan peringkat yang bagus dikelas, dia bisa mendapatkan banyak piagam yang diperolehnya diluar kelas atau non-akademis.

Nah, dari dasar inilah seorang profesor sekaligus pakar psikologi dari Harvard, Howard Gardner mengemukakan teori bahwa tingkat kecerdasan seseorang sebenarnya juga dibagi-bagi lagi menjadi beberapa jenis dan inilah yang dinamakan multiple intelligences atau kecerdasan majemuk.

Horward Gardner mengartikan kecerdasan adalah kemampuan seseorang dengan proses kelengkapannya untuk sanggup menangani masalah yang spesifik di dunia. Pada gagasannya, bapak Howard Gardner membagi kecerdasan seseorang menjadi delapan jenis, yaitu:

  1. Kecerdasan verbal-linguistik (kebahasaan), yaitu kecerdasan yang meliputi penguasaan bahasa baik lisan maupun tulis untuk mengungkapkan diri atau mengingat bermacam hal. Orang dengan kecerdasan tipe verbal-linguistik tinggi biasanya mahir membaca, menulis, bercerita dan mengingat kata-kata.
  2. Kecerdasan matematis-logis, yaitu kemampuan dalam membaca bermacam pola atau prinsip-prinsip dasar sebab-akibat, berpikir logis, berpikir dengan abstraksi dan angka, bernalar secara deduktif dan menyelesaikan operasi-operasi matematis. Mereka dengan kecerdasan ini dapat belajar secara lancar dengan permainan logika, investigasi, dan riddle atau teka-teki.
  3. Kecerdasan spasial (keruangan), yaitu kecerdasan dalam mengenali dengan cepat pola-pola di ruang yang luas maupun sempit seperti yang terlihat pada kemampuan para pilot, navigator atau arsitek sekalipun. Mereka yang memiliki kecerdasan ini juga dapat memanipulasi ruang-ruang yang ada untuk kegunaan tertentu.
  4. Kecerdasan kinestetik (gerak), adalah kecerdasan menggunakan bagian-bagian tubuh atau gerakan dalam menyelesaikan masalah atau menyampaikan sebuah gagasan. Para atlit, penari, aktor dan pengrajin memiliki sebagian besar jenis kecerdasan ini.
  5. Kecerdasan musikal (nada/harmony), yakni kemampuan mengenali suara dan menyusun nada, irama, dan berbagai pola untuk menggunakannya membuat komposisi musik. Orang dengan tingkat kecerdasan tinggi musikalnya biasanya menangkap pelajaran dengan baik lewat ceramah atau mendengarkan lagu/musik.
  6. Kecerdasan intrapersonal (dalam diri), yaitu kecerdasan dalam memahami diri sendiri. Orang yang punya kecerdasan intrapersonal tinggi mampu mengenali kekuatan dan kelemahannya, apa yang membuatnya unik, dan mampu memprediksi reaksi atau emosinya sendiri. Jadi mereka bisa memakainya untuk memecahkan berbagai masalah dan mengatur hidupnya sendiri dengan baik.
  7. Kecerdasan interpersonal (berhubungan dengan orang lain), yaitu kecerdasan yang dalam mengenali maksud, perasaan, mood, temperamen dan motivasi orang lain. Mereka dapat berkembang lebih efektif melalui kegiatan kelompok, seminar, maupun dialog. Orang yang menonjol pada jenis kecerdasan ini mampu bekerja dalam kelompok dengan baik (team player) dan bisa memilih bidang kerja seperti misalnya tenaga penjualan, pengajar, pemimpin umat, manajer, pekerja sosial, konselor ataupun politisi.
  8. Kecerdasan naturalis (mengenali alam), yakni kecerdasan dalam mengenali dan mengelompokkan berbagai spesies, baik flora maupun fauna, batuan, dan jenis-jenis pegunungan yang ada di lingkungannya. Kecerdasan ini sangat bermanfaat ketika manusia hidup di alam bebas. Kecerdasan ini diperlukan di kalangan ahli botani, chef, maupun peternak/petani.

Sebagai tambahan, sebenarnya pak Gardner menyebutkan satu lagi kecerdasan, namun beliau kurang yakin akan jenis ini ketika menggagasnya, tapi tetap saja dimasukkan dalam karya tulis dan seminarnya. Kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan Spiritual (kemampuan memahami esensi batin atau pemahaman filosofis akan kekuatan supranatural).

Ada beberapa argumen yang melandasi teori multiple intelligences bapak Gardner ini, yakni sebagai berikut:

Letaknya dalam otak.

Beliau mengamati bahwa orang-orang  yang pernah mengalami kecelakaan atau kelainan atau juga penyakit mempengaruhi wilayah otak tertentu dan ini juga mengganggu jenis kecerdasan tertentu. Semisal, seseorang mengalami cidera di bagian wilayah Broca (Lobus bagian depan) akan mengalami kesulitan pada ungkapan bahasanya (linguistik). Tetapi dia masih dapat mengerjakan soal-soal, mengekspresikan diri dengan musik dan gerakan, menjalin hubungan baik dengan teman, dsb. Ini menunjukkan bahwa otak manusia sebenarnya terdapat bagian-bagian kecerdasannya sendiri-sendiri.

Adanya bukti personalitas.

Dalam buku pak Gardner juga menunjukkan profil-profil pada orang tertentu yang menonjol pada satu jenis kemampuan tertentu, tetapi rendah pada kemampuan yang lainnya.

Tiap kecerdasan memiliki waktu dan perkembangan.

Pada contoh, seseorang ketika masih bayi tidak mungkin memperlihatkan kecerdasannya mengerjakan soal, ataupun hal yang tak bisa dia kerjakan. Karena disini juga ada masalah perkembangan dan waktu. Jadi, kecerdasan tersebut muncul ketika lingkungan juga mempengaruhinya.

Sebenarnya masih terdapat dukungan dan data lain mengenai kecerdasan ini, seperti sejarah evolusi manusia, dukungan temuan psikometrik, penelitian psikologi eksperimental, dll. Hingga akhirnya terdapat beberapa poin-poin penting dari teori tersebut.

  • Setiap orang memiliki kedelapan kecerdasan dan pada tiap kecerdasan memiliki kapasitas atau ukuran tertentu.
  • Orang dapat mengembangkan tiap-tiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai. Dengan arti kecerdasan dapat di stimulasi atau dirangsang sampai pada level tertingginya.
  • Kecerdasan tersebut umumnya bekerja secara bersamaan dengan cara yang kompleks dalam aktivitas sehari-hari.
  • Dan ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori.

Sehingga dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita semua memiliki kecerdasan yang sama, akan tetapi dengan kapasitas yang berbeda beda. Seperti yang telah dikatakan bapak Gardner, “…the monopoly of those who believe in a single general intelligence has come to an end.” (Gardner, 1999, hal 203) artinya bahwa kita berbeda satu sama lain karena pada hakikatnya kita tercipta untuk dapat mengatasi problem yang kompleks pula yang kita hadapi di dunia ini. Jadi, apakah kamu masih merasa tidak cerdas?

Related posts

Bingung Pilih E-commerce atau Marketplace ? Kenali Perbedaan Secara Lengkap!!

Reyazandi

Resep ala Selebgram : DM Instagram Adalah Modal Awal Nikah

Rosi Indra

Butuh Domain Hosting Bintang 5 ? Yuk Kenali CloudKilat !

Reyazandi

Tips Menjadi Pendengar Yang Baik kala Dicurhati Pacar

Rosi Indra

Apakah New Normal di Indonesia Sinonim dari Herd Immunities?

Rosi Indra

Percakapan Saya Bersama Admin Sosmed Akun Hijrah

Rosi Indra

Leave a Comment