Sejarah Kerajaan Ayutthaya dimulai setelah didirikan pada tahun 1351 di Thailand. Pendirinya adalah Ramathibodi I atau Uthong yang berasal dari Ayutthaya. Ternyata dianggap sebagai cikal bakal negara Thailand.
Sebenarnya kerajaan ini berkembang aktif khususnya dalam perdagangan. Bahkan bekerja sama dengan India, Tiongkok, Persia, Jepang dan negara-negara Eropa. Kemajuannya luar biasa terutama dalam bidang sastra, kesenian dan pendidikan.
Sejarah Kerajaan Ayutthaya dan Kehidupan Sosial Masyarakatnya

Berdirinya Ayutthaya dilakukan di lembah Sungai Chao Phraya. Uthong sebagai raja pertama diperkirakan merupakan keturunan Lo Khun Borom. Tidak lain merupakan nenek moyang orang yang menguasai bahasa Tai Barat Daya.
Dalam sejarah Kerajaan Ayutthaya, ada yang menganggap Uthong adalah keturunan keluarga pedagang Tiongkok dari Phetburi. Uthong berhasil menjadi tokoh besar hingga mendirikan kerajaan setelah menikahi putri keluarga Suphanburi.
Setelah pernikahan tersebut, Uthong mendirikan kerajaannya sekaligus membangun ibukota pulai di Sungai Chao Phraya. Karena berhasil naik takhta, akhirnya meraih gelar Ramathibodi I sebagai pemimpin pertama dalam kerajaan.
Sementara itu, pada 1360, Ramathibodi I memutuskan menjadikan Buddha Theravada sebagai agama resmi kerajaan. Kemudian menyusul hukum yang dibuat berdasarkan Kitab Dharmashastra sekaligus adat yang ada di Thailand saat itu.
Sebelum menggunakan bahasa Siam atau bahasa Thailand, masyarakat Ayutthaya memakai bahasa Khmer. Bahasa tersebut digunakan untuk komunikasi sehari-hari. Walaupun menerapkan Buddha Theravada, tidak semua masyarakat menganutnya.
Dalam sejarah Kerajaan Ayutthaya, beberapa masyarakat menganut Buddha Mahayana dan Islam. Kehidupan bermasyarakat memanfaatkan unit dasar organisasi sosial berupa komunitas desa dengan rumah tangga keluarga besar.
Ketua yang dipilih akan memberikan kepemimpinan terhadap proyek komunal dari kerajaan. Sementara itu hak atas tanah berada pada hak kepala desa. Apalagi menjadi pemegang atas nama komunitas yang dipimpinnya tersebut.
Pemilik tahan pertanian tetap bisa menikmati penggunaan tanah selama bisa mengelolanya. Lahan yang disediakan digunakan untuk budidaya. Bahkan kelangsungan hidup negara bergantung pada pertanian dan pertahanan.
Kehebatan Seni dan Sastra di Ayutthaya Pada Abad ke-18
Masa keemasan dalam sejarah Kerajaan Ayutthaya menjadi salah satu bentuk kehebatan perdaban Thailand. Apalagi pada abad ke-18, menunjukkan pertumbuhan pesar. Khususnya pada kesenian, sastra sampai ilmu pengetahuan.
Perkembangan pesat dimulai dengan bidang sastra yang dibuat dalam bentuk Ramakien. Bisa dibilang sebagai wiracarita nasional Thailand. Perkembangan begitu besar sehingga digunakan sumber sastra bagi masyarakat Ayutthaya.
Selanjutnya Ramakien terus dikembangkan sampai menjadi seni pertunjukan drama tari Thailand bersama Khon. Pada masa tersebut sering menjadi pertunjukan paling dinantikan. Bahkan banyak disukai karena isinya yang menarik.
Sebenarnya sebagian besar karya sastra pada masa Ayutthaya adalah berbentuk puisi. Tradisi puisi Thailand diawali dengan bentuk puisi aslinya. Mulai dari khlong, rai hingga klon yang mulai dikembangkan saat itu.
Kesuksesan sejarah Kerajaan Ayutthaya dalam bidang seni dan sastra mendapatkan pengakuan dari dunia. Apalagi ditambah dengan pembelajaran yang terus meningkat. Banyak masyarakat atau tokoh pintar yang diciptakan.
Selain itu membangun berbagai arsitektur megah hingga kuil yang menawan. Tentu menjadi bentuk keagungan serta kekayaan kerajaannya pada masa itu. Nuansanya begitu magis karena berlapis emas dengan ornamen khas Thailand.
Karena sedang dalam masa keemasannya, mulai bersaing dengan bangsa lain. Tujuannya untuk mendapatkan kekuasaan atas Kamboja. Perebutan tersebut dilakukan dengan melawan dinasti Nguyen sebagai penguasa Vietnam Selatan.
Masa Kejayaan dan Keruntuhan Ayutthaya di Thailand

Masa kejayaan dalam sejarah Kerajaan Ayutthaya telah terbukti dengan kehebatan dalam bidang seni maupun santarnya. Bahkan wilayah kekuasaannya sangat banyak sehingga menjadi kerajaan yang diakui pada masanya.
Pada abad ke-18 sukses menguasai berbagai kota penting di Thailand. Mulai dari Ligor, Martaban, Junk Ceylon, Songkla hingga Tenasserim. Kemudian mendapatkan dukungan dari masyarakat sehingga pertumbuhan terus terjadi.
Dalam bidang sastra sendiri kisah berbentuk Ramakien juga terus berkembang. Bahkan kemudian menjadi sumber sastra dari Ayutthaya. Selanjutnya dikembangkan menjadi seni pertunjukan drama tari sebagai kebudayaan khas Negeri Gajah Putih.
Sementara itu, dalam bidang pertanian, kejayaannya tidak kalah baik. Apalagi sukses menghasilkan berbagai komoditas terbaik seperti padi, berat maupun biji-bijian. Ternyata sudah mampu memenuhi kebutuhan pangan dengan baik.
Lalu untuk masa runtuhnya sejarah Kerajaan Ayutthaya sendiri diawali pada 1759. Penyebabnya karena bertetangga dengan Dinasti Konbaung di Burma. Pada masa tersebut terlibat konflik militer sehingga Burma melakukan invasi.
Akibatnya wilayah kota Pelabuhan Tavoy kemudian harus dilepaskan. Peperangan selanjutnya terus berlangsung selama beberapa tahun sampai 1760-an. Setelah peperangan berlanjut, semakin banyak kota yang jatuh ke tangan Burma.
Pertempuran yang terus terjadi bahkan menyebabkan keruntuhan Ayutthaya pada 1767. Masa keruntuhan terjadi saat dipimpin oleh Ekkathat sebagai raja terakhir. Tentu tidak mampu bangkit sehingga kalah dari berbagai sektor.
Ditambah dengan banyaknya propinsi melepaskan diri, muncul negara independen sampai biksu yang memberotak. Bangsa Thai selamat karena Tiongkok menyerang Burma. Sejarah Kerajaan Ayutthaya hanya menyisakan puing keruntuhan.

